Wah… saat ini sibuk telah melanda diriku.. Saat waktu luang yang telah di berikan kepada saya, saya manfaatkan utk meng-update blog saya.. walaupun isinya nggak bermakna.. *toeng..* hahaha…
sebentar lagi saatnya makan siang, trus ke pergi ke bandara Seokarno Hatta utk berangkat ke palembang, setelah dari palembang.. insya ALLAH saya akan menelusuri kota Semarang, abis itu nggak tau lagi mo kemana neh!!! Klo saya disuruh ke Madura.. insyaALLAH saya akan ke Madura juga.
Waduh.. neh orang sibuk apa yah..?!?!?! 
Saat ini saya sibuk mengunjungi Maulid Nabi Muhammad SAW.
Best Regards,
Your friend
Tulisan ini saya kutip (copy paste) dari blognya mas ammar a.k.a y3d1ps tentang "Bulan Terbelah?"
Semoga cerita ini bisa direnungkan dengan baik2 oleh teman2 sekalian, karena cerita ini terdapat unsur lyang masuk di logika dan unsur tentang Al-Qur’an (Islam).
BISMILLAHIRRAHMAANIRRAHIIM
SUBHANALLAH………….. MAHA BESAR ALLAH SWT ATAS SEMUA CIPTAANNYA
Allah SWT berfirman:
Sungguh telah dekat hari qiamat, dan bulan pun telah terbelah (Q.S. Al-Qamar: 1)
Dalam temu wicara di televisi bersama pakar Geologi Muslim, Profesor Dr. Zaghlul Al-Najar, salah seorang warga Inggris mengajukan pertanyaan kepadanya.
Apakah ayat dari surat Al-Qamar di atas memiliki kandungan mukjizat secara ilmiah ?
Maka Profesor Dr. Zaghlul Al-Najar menjawabnya sebagai berikut :
Tentang ayat ini, saya akan menceritakan sebuah kisah. Sejak beberapa waktu lalu, saya mempresentasikan di Univ. Cardif, Inggris Bagian barat, dan para peserta yang hadir bermacam-macam. Ada yang muslim dan ada juga non-muslim. Salah satu tema diskusi waktu itu adalah seputar mukjizat ilmiah dari Al-Qur’an.
Salah seorang pemuda muslim pun berdiri dan bertanya
Wahai Tuan, apakah menurut anda ayat yang berbunyi “Telah dekat hari qiamat dan bulan pun telah terbelah” mengandung mukjizat secara ilmiah ?
Maka saya menjawabnya:
Tidak, sebab kehebatan ilmiah dapat diterangkan oleh ilmu pengetahuan, sedangkan mukjizat tidak bisa diterangkan oleh ilmu pengetahuan. Sebab ia tidak bisa menjangkaunya.
Dan tentang terbelahnya bulan, maka itu adalah mukjizat yang terjadi pada Rasul terakhir Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wassalam sebagai pembenaran atas kenabian dan kerasulannya, sebagaimana nabi-nabi sebelumnya.
Dan mukjizat yang kelihatan, maka itu disaksikan dan dibenarkan oleh setiap orang yang melihatnya. Andai hal itu tidak termaktub di dalam kitab Allah dan hadits-hadits Rasulullah SAW, maka tentulah kami para muslimin di zaman ini tidak akan mengimani hal itu.
Akan tetapi hal itu memang benar termaktub di dalam Al-Qur’an dan sunnah-sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam. Dan memang Allah ta’alaa benar-benar Maha berkuasa atas segala sesuatu”.
Maka Profesor Dr. Zaghlul Al-Najar pun mengutip sebuah kisah Rasulullah SAW membelah bulan. Kisah itu adalah di masa sebelum hijrah dari Mekah Al-Mukarramah ke Madinah.
Orang-orang musyrik berkata,
Wahai Muhammad, kalau engkau benar Nabi dan Rasul, coba tunjukkan kepada kami satu kehebatan yang bisa membuktikan kenabian dan kerasulanmu (mengejek dan mengolok-olok)?
Rasulullah bertanya,
Apa yang kalian inginkan ?
Mereka menjawab:
Maka Rasulullah SAW pun berdiri dan terdiam, lalu berdoa kepada Allah SWT agar menolongnya. Maka Allah SWT memberitahu Muhammad SAW agar mengarahkan telunjuknya ke bulan. Rasulullah pun mengarahkan telunjuknya ke bulan, dan terbelahlah bulan itu dengan sebenar-benarnya.
Maka serta-merta orang-orang musyrik pun berujar,
Muhammad, engkau benar-benar telah menyihir kami!.
Akan tetapi para ahli mengatakan bahwa sihir, memang benar bisa saja “menyihir” orang yang ada disampingnya akan tetapi tidak bisa menyihir orang yang tidak ada ditempat itu. Mereka lantas menunggu-nunggu orang-orang yang akan pulang dari perjalanan. Orang-orang Quraisy pun bergegas menuju keluar atas kota Mekkah menanti orang yang baru pulang dari perjalanan.
Dan ketika datang rombongan yang pertama kali dari perjalanan menuju Mekkah, maka orang-orang musyrik pun bertanya,
Apakah kalian melihat sesuatu yang aneh dengan bulan?
Mereka menjawab,
Ya, benar. Pada suatu malam yang lalu kami melihat bulan terbelah menjadi dua dan saling menjauh masing-masingnya kemudian bersatu kembali….
Maka sebagian mereka pun beriman, dan sebagian lainnya lagi tetap kafir (ingkar). Oleh karena itu, Allah menurunkan ayat-Nya:
Sungguh, telah dekat hari qiamat, dan telah terbelah bulan, dan ketika melihat tanda-tanda kebesaran Kami, merekapun ingkar lagi berpaling seraya berkata, Ini adalah sihir yang terus-menerus, dan mereka mendustakannya, bahkan mengikuti hawa nafsu mereka. Dan setiap urusan benar-benar telah tetap …. sampai akhir surat Al-Qamar.
Ini adalah kisah nyata,
demikian kata Profesor Dr. Zaghlul Al-Najar.
Dan setelah selesainya Profesor Dr. Zaghlul menyampaikan hadits nabi tersebut, berdirilah seorang muslim warga Inggris dan memperkenalkan diri seraya berkata,
Aku Daud Musa Pitkhok, ketua Al-Hizb Al-Islamy Inggris. Wahai tuan, bolehkah aku menambahkan?
Profesor Dr. Zaghlul Al-Najar menjawab:
Dipersilahkan dengan senang hati.
Daud Musa Pitkhok berkata,
Aku pernah meneliti agama-agama sebelum menjadi muslim, maka salah seorang mahasiswa muslim menunjukiku sebuah terjemah makna-makna Al-Qur’an yang mulia. Maka, aku pun berterima kasih kepadanya dan aku membawa terjemah itu pulang ke rumah. Dan ketika aku membuka-buka terjemahan Al-Qur’an itu di rumah, maka surat yang pertama aku buka ternyata Al-Qamar.
Dan aku pun membacanya:
Telah dekat hari qiamat dan bulan pun telah terbelah…….
Maka aku pun bergumam:
Apakah kalimat ini masuk akal? Apakah mungkin bulan bisa terbelah kemudian bersatu kembali? Andai benar, kekuatan macam apa yang bisa melakukan hal itu?
Maka, aku pun menghentikan dari membaca ayat-ayat selanjutnya dan aku menyibukkan diri dengan urusan kehidupan sehari-hari. Akan tetapi Allah-lah Yang Maha Tahu tentang tingkat keikhlasan hamba-Nya dalam pencarian kebenaran.
Maka aku pun suatu hari duduk di depan televisi Inggris. Saat itu ada sebuah diskusi hangat antara presenter seorang Inggris dan 3 orang pakar ruang angkasa Amerika Serikat. Ketiga pakar antariksa tersebut pun menceritakan tentang dana yang begitu besar dalam rangka melakukan perjalanan ke antariksa. Dan diantara diskusi tersebut adalah tentang turunnya astronot menjejakkan kakinya di bulan, dimana perjalanan antariksa ke bulan tersebut telah menghabiskan dana tidak kurang dari 100 juta dollar.
Mendengar hal itu, presenter terperangah kaget dan berkata,
Kebodohan macam apalagi ini, dana begitu besar dibuang oleh AS hanya untuk bisa mendarat di bulan?
Mereka pun menjawab,
Tidak, ..!!!
Tujuannya tidak semata menancapkan ilmu pengetahuan AS di bulan, akan tetapi kami mempelajari kandungan yang ada di dalam bulan itu sendiri, maka kami pun telah mendapat hakikat tentang bulan itu, yang jika kita berikan dana lebih dari 100 juta dollar untuk kesenangan manusia, maka kami tidak akan memberikan dana itu kepada siapapun.
Maka presenter itu pun bertanya,
Hakikat apa yang kalian telah capai sehingga demikian mahal taruhannya?
Mereka menjawab,
Ternyata bulan pernah mengalami pembelahan di suatu hari dahulu kala, kemudian menyatu kembali.!!!
Presenter pun bertanya,
Bagaimana kalian bisa yakin akan hal itu?
Mereka menjawab,
Kami mendapati secara pasti dari batuan-batuan yang terpisah terpotong di permukaan bulan sampai di dalam (perut) bulan.
Maka kami pun meminta para pakar geologi untuk menelitinya, dan mereka mengatakan,
Hal ini tidak mungkin telah terjadi kecuali jika memang bulan pernah terbelah lalu bersatu kembali.
Mendengar paparan itu, ketua Al-Hizb Al-Islamy Inggris mengatakan,
Maka aku pun turun dari kursi dan berkata, “Mukjizat (kehebatan) benar-benar telah terjadi pada diri Muhammad Sallallahu ‘Alaihi Wassallam 1400-an tahun yang lalu. Allah benar-benar telah mengolok-olok AS untuk mengeluarkan dana yang begitu besar, 100 juta dollar lebih, hanya untuk menetapkan akan kebenaran muslimin !!!!”.
Maka, agama Islam ini tidak mungkin salah … (aku pun bergumam). Maka aku pun membuka kembali Mushhaf Al-Qur’an dan aku baca surat Al-Qamar, dan … saat itu adalah awal aku menerima dan masuk Islam.
Diterjemahkan oleh: Abu Muhammad ibn Shadiq
dicopy paste dari http://www.niafirman.com/?p=22#more-22.
Itu lah gambaran tentang Ilmu islam, di Al-Qur’an sudah ada semua jawaban apa yang ada di dunia dan apa yang ada di akhirat nanti. Bahkan jauh sebelum orang2 pergi ke bulan untuk meneliti tentang bulan pernah terbelah dan bersatu kembali.. Al-Qur’an sudah menjawabnya terlebih dahulu.
Sebenernya ada lagi, AL-Qur’an menjawab teori big-bang yang ditemukan oleh Edwin hubble jauh sebelum Edwin Huble menemukan teori tersebut. Bila saya mempunyai waktu yg cukup untuk membuat artikel tersebut (teori big bang), InsyaALLAH akan saya buat artikelnya.
Best Regards,
Your friend
Tulisan ini saya kutip dari buku yang berjudul Duhai Anakku.. Wasiat Imam Ghazzali untuk Murid Kesayangannya.
Saya rasa ini sangat pantas untuk direnungkan tentang kisahnya Hatim Al-Asham tentang pelajaran dunia dan akhirat. Ada 8 nasihat yang diberikan oleh Hatim Al-Asham kepada sahabatnya pada waktu itu. Renungkan lah riwayat berikut ini.
Suatu hari, Hatim al-Asham ditanya oleh sahabatnya, Syaqiq al-Balkhi, semoga ALLAH merahmati keduanya.
"Kau telah bersahabat denganku selama 30 tahun, apa yang kau dapatkan selama ini?" tanya Syaqiq.
"Aku telah mendapatkan 8 pelajaran yang kuharapkan dapat menyelamatkanku," jawab Hatim
"Apa saja pelajaran itu?"
"Pertama: Kuamati kehidupan manusia, kudapati setiap manusia memiliki kecintaan dan kesayangan. Dari beberapa kecintaannya itu, ada yang menemaninya sampai pada sakit yang menyebabkan kematiannya, dan ada yang mengantarnya sampai ke pekuburan, setalah itu mereka semua pergi meninggalkannya seorang diri, tidak ada satu pun orang yang bersedia masuk ke dalam kubur menemaninya. Kurenungkan hal ini lalu kukatakan : Sebaik-baik kecintaan adalah yang mau menemani seseorang di dalam kubur dan menghiburnya. Aku tidak mendapatkan yang demikian itu kecuali amal saleh. Oleh karena itu, kujadikan amal saleh sebagai kecintaanku agar dapat menjadi pelita kuburku, menghiburku di dalamnya, dan tidak akan meninggalkanku seorang diri.
Kedua : Kuperhatikan bahwa manusia selalu memperuntuhkan hawa nafsunya, dan bersegera dalam memenuhi keinginan nafsunya. Lalu kurenungkan wahyu ALLAH Ta’ala :
Dan adapun orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya Surgalah tempat tinggal(nya).
[an-Nazi’at/79:40-41]
Aku yakin bahwa Qur’an adalah
haq dan benar, maka aku bersegera menentang hawa nafsuku dan menyiapkan diri untuk memeranginya. Tidak sekali pun aku ikuti kehendaknya sampai akhirnya ia tunduk dan taat kepada ALLAH.
Ketiga : Aku liat setiap orang berusaha mencari harta dan kesenangan duniawi, kemudian menggenggamnya erat-erat. Lalu kerunungkan wahyu ALLAH Ta’ala :
Apa yang ada di sisimu akan lenyap, dan apa yang ada di sisi ALLAH kekal…
[an-Nahl/16:96]
Karena itu, kubagi-bagikan dengan ikhlas penghasilanku kepada kaum fakir miskin agar menjadi simpananku kelak di sisi-Nya.
Keempat : Kuperhatikan sebagaian manusia beranggapan bahwa kemuliaan dan kehormatan terletak pada banyaknya pengikut dan famili, lalu mereka berbangga-bangga dengannya. Yang lain mengatakan terletak pada harta yang melimpah dan anak yang banyak, lalu mereka bermegah-megah dengannya. Sebagian yang lain mengira terletak dalam merampok harta orang lain, menzalimi dan menumpahkan darah mereka. Dan sebagian lagi menyakini bahwa kemuliaan dan kehormatan terletak dalam menghambur-hamburkan dan memboroskan harta. Aku lalu merenungkan wahyu ALLAH Ta’ala :
….sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian di sisi ALLAH adalah orang yang paling bertaqwa di antara kalian….
[al-Hujurat/49:13]
lalu kupilih takwa karena aku yakin bahwa Qur’an itu
haq dan benar, sedang pemikiran dan pendapat mereka keliru dan tidak langgeng.
Kelima : Kuperhatikan manusia sering saling menghina dan bergunjing (ghibah). Perbuatan buruk itu ditimbulkan oleh perasaan dengki (hasad) sehubungan dengan harta, kedudukan, dan ilmu. Kemudian kurenungkan wahyu ALLAH Ta’ala :
….Kami telah menentukan pembagian nafkah hidup di antara mereka dalam kehidupan dunia….
[az-Zukhruf/43:32]
Maka tahulah aku, bahwa pembagian itu telah ditentukan oleh ALLAH sejak di alam
azali. Oleh karena itu, aku tidak boleh mendengki siapa pun dan harus rela dengan pembagian yang telah diatur oleh ALLAH
Ta’ala.
Keenam : Kuperhatikan manusia saling bermusuhan satu dengan lainnya karena berbagai sebab dan tujuan. Lalu kurenungkan wahyu ALLAH Ta’ala :
Sesungguhnya setan itu adalah musuh bagi kalian, maka anggaplah ia musuh (kalian)….
[Fathir/35:6]
Maka sadarlah aku, bahwa aku tidak boleh memusuhi siapa pun kecuali setan.
Ketujuh : Kuperhatikan setiap orang berusaha keras dan berlebihan dalam mencari makan dan nafkah hidup dengan cara yang menyebabkan mereka terjerumus dalam perkara yang
syubhat dan haram, juga dengan cara yang dapat menghinakan diri dan mengurangi kehormatannya. Lalu kerunungkan wahyu ALLAH
Ta’ala :
Dan tidak ada satu binatang melata pun di bumi ini melainkan ALLAH-lah yang menanggung rezekinya.
[Hud/11:6]
Maka sadarlah aku, bahwa sesungguhnya rezeki ada di tangan ALLAH
Ta’ala, dan Ia telah memberikan jaminan. Oleh karena itu, aku lalu menyibukkan diri dengan ibadah dan tidak meletakkan harapan pada selain-Nya.
Kedelapan : Kuperhatikan sebagian orang yang menyandarkan diri pada benda-benda buatan manusia, sebagian orang bergantung pada dinar dan dirham, sebagian pada harta dan kekuasaan, sebagian pada kerjinan dan industri, dan sebagian lagi pada sesama makhluk. Lalu kurenungkan wahyu ALLAH Ta’ala :
….dan barang siapa bertawakal kepada ALLAH niscaya Ia akan mencukupi (keperluan)-nya. Sesungguhnya ALLAH melaksanakan urusan (yang dikehendaki)-Nya. Sesungguhnya ALLAH telah mengadakan ketentuan bagi segala sesuatu
[at-Thalaq/65:3]
Maka aku pun lalu bertawakal kepada ALLAH
Ta’ala dan mencukupkan diri dengan-Nya, karena Ia adalah sebaik-baik Dzat yang bisa kupercaya untuk mengurus dan melindungi semua kepentinganku."
(Setelah mendengar uraian Hatim) Syaqiq berkata, "Semoga ALLAH memberimu taufik. Aku telah membaca Taurat, Injil, Zabur dan Furqan (Qur’an) ternyata semua kitab itu membahas kedelapan persoalan ini. Oleh karena itu, barang siapa mengamalkannya, maka ia telah mengamalkan keempat kitab tersebut."
Best Regards,
Your friend
Mosque’ diperoleh dari kata dalam bahasa Spanyol, yaitu "Mosquito" ("Nyamuk"). Dinamakan sepert itu karena saat Perang Salib terjadi, Raja Ferdinand berkata bahwa mereka akan berangkat dan membasmi Muslim "like mosquitoes" ("seperti nyamuk-nyamuk"). (Dimana lagi mereka dapat temukan muslim dalam jumlah yang cukup besar untuk dibasmi jika bukan di Masjid?).
Lalu tanpa rasa sungkan mereka menyebut "Masjid" sebagai "Mosque".
Jadi saudara-saudara seiman, hindarilah penggunaan kata yang dengan jelas menunjukkan tamparan kemuakan ke wajah umat. Beritahukanlah saudara-saudara kita tentang sejarah dan etimologi (ilmu asal kata) tentang kata ini. Dan marilah kita ganti kata itu dengan kata yang memiliki makna yang seharusnya : Masjid! Tempat untuk Bersujud!! Bukan Mosque: tempat pembasmian!
Sumber : ICMI
penulis : Anonim
Thanks to : Riky kurniawan yang telah memberi tahu arti dari sebuah kata Mosque.
Best Regards,
Your friend